Monday, March 28, 2016

ELKA



Bagi gue. Malam ini adalah malam penuh keajaiban. Hari ini merupakan hari penuh kesempurnaan. Dan minggu ini ialah minggu yang sangat mengenangkan.
Begitu ucapan kata pengantar modul praktikum gue yang barusan gue selesaikan.



Bagi gue, engga ada hal yang menyakitkan dari senyuman yang diberikan oleh orang yang telah kita lukai. Senyuman kelikhlasan dari seseorang yang telah terluka atas apa yang kita lakukan. Entah senyuman itu palsu ataupun tidak. Tetapi gue tetep membenci senyuman itu.
Sebuah tindakan yang tidak menyenangkan bagi seseorang, terkadang dengan mudahnya kita lakukan. Entah itu tidak sengaja ataupun sengaja. Banyak faktor yang membekali atas tindakan itu, salah satunya balas dendam. Mereka yang merasa tidak terima atas apa yang dilakukan oleh orang lain akan selalu merasa was – was dan berujung pada tindakan balas dendam.
Perasaan was – was sangat menjijikan jika dilihat dari segi kehidupan kita yang sudah nyaman. Oleh karena itu, perasaan seperti itu sangat gue hindari. Tindakan balas dendam hanya akan mengakibatkan kita jauh dari myself comfortable.

Dan sekarang gue baru saja merasakan tindakan yang dilakukan oleh “mereka” yang tidak menyenangkan. Gue merasa diperlakukan sedikit tidak nyaman. Hal yang seharusnya bisa diselesaikan secara bersamaan, namun dilakukan hanya oleh “kita”. Hal yang seharusnya tidak untuk ditertawakan, tetapi “mereka” hanya dapat menangis melihat “kita”. Bukan balas dendam.
Latihan Kepemimpinan.

Yapos, gue baru balik dari acara kepemimpinan. Tepatnya gue sudah semalam bisa tidur nyenyak di kasur gue sendiri. Empat hari tiga malam terlewati.
Walau tidak menyenangkan. Tapi gue yakin. Ini bukan tindak kekerasan, apalagi balas dendam. Ini hanya masalah sudut pandang dan kedewasaan. Dan “Mereka” berhasil berubah segi tersebut dari diri “kita”.

Lelah, capek, dan tidak semalam terasa bisa merasakan getaran nadi diri sendiri.

Dan gue akhirnya menemukan jawaban ketidakpastian dari ke-senioritasan dalam beberapa acara Latihan Kepemimpinan.
Argumen dari mereka atas jawaban untuk pertanyaan “Kenapa kami dihukum seperti ini ? Apakah setelah kami di push up dengan hitungan yang engga bisa di uraikan pake rumus aljabar linier ini bisa menggalahkan legenda mak lampir ?”
Jawaban mereka yang selalu tidak disertai empiris yang tepat. Mereka selalu menjawab dengan: Ini demi kebaikan kalian semua.
Namun dari segi yang lain, gue dapat merasakan manfaat dari tindakan mereka, yaitu buat dua sampai tiga hari setelah selesai acara. Untuk melanjutkan kehidupan.

Bagi anak kosts kaya gue. Tidak perlu memiliki pakaian yang terlalu banyak. Karena keterbatasan lemari yang ada. Cukup buat kuliah, nongkrong, dan pacaran sama Karya.

Dan setelah ikuti acara Latihan Kepemimpinan selama empat hari. Pakaian gue ludes. Dan dari situ gue dapat pencerahan atas manfaat dari hukuman yang diberikan saat di acara kemaren.
Entah seberapa banyak hukuman yang diterima. Namun gue tetep berterima kasih. Karena dengan hukuman yang diberikan, gue jadi kuat untuk mencuci pakaian sebanyak tiga ember besar selama tiga jam ini.
Gue jadi bisa kuat buat nyuci tiga ember pakaian, dan bisa melanjutkan kehidupan. Walaupun kehidupannya tetap kembali lagi ke kasur untuk membenarkan posisi tulang belakang.

Tips: Kalaupun kalian yang ikut acara Kepemimpinan semacem yang gue rasain ini dan kalian masih kecapean, berarti kalian harus banyak – banyak dihukum lagi dengan gaya ngaduk dodol. Atau kalian harus beli mesin cuci, harganya murah kok, bisa dilihat di lapak gue di http://www.bukalapak.com/marmutmapia .
Dan gue promosi yang engga penting :D


And for LKMU XIII, I say thank you for spirit to make me something.

Post a Comment