Showing posts with label Ceritanya Cerita. Show all posts
Showing posts with label Ceritanya Cerita. Show all posts

Saturday, December 31, 2016

Malam Terakhir di Tahun 2016 Marmut Manis

Oke.. hmmm..
Grogi banget nih.



Sebelumnya, gue merasa engga enak banget sama ini blog. Karena gue udah sedikit melupakannya. Tahun ini mungkin merupakan tahun yang jumlah postingan di blog ini paling sedikit. Jadi izinkan gue sedikit beradaptasi kembali dengan ini blog.
Iyaps, benar. Tahun ini engga tau kenapa bikin gue ngelewatin banyak hal yang dulunya menjadi hobby gue. Entah Karena perkuliahan yang sudah mulai serius atau nunggu kepastian dia buat serius? Yang jelas gue merasa bukan gue yang biasanya pada tahun ini. (buat temen-temen yang merasakan hal yang sama, sekarang gue menyadarinya).
Mulai dari menulis. Nge-blog. Atau sekedar posting tulisan di Facebook atau Twitter ajah gue udah jarang banget. Apa mungkin gue disibukan dengan kehidupan nyata gue ?
Gue rasa, dalam perkuliahan, gue pernah ngalaman perjalan panjang satu semester yang lebih berat daripada ditahun sekarang. Gue pernah ngalamin empat puluh empat SKS sekaligus kok dalam satu semester pada tahun lalu. Tapi gue masih sempet buat bikin tulisan dan nyapain temen di dunia maya. Bahkan sampe kolaborasi bikin Novel Intuisi bareng.
Dalam organisasi, jabatan gue di organisasi juga sama-sama aja kok kaya tahun kemaren. Kesibukannya juga bisa dibilang sama-sama aja. Tapi mungkin fikiran dan tanggung jawabnya aja yang terkuras abis. Apalagi kalo udah berurusan sama yang namanya hukum alam: nurut sama yang lebih tua.
Karena menurut gue seharusnya nurut pada yang lebih bener.
Dalam bidang apalagi ?
Entah gue sibuk banget ngurusin apaan. Bahkan gue juga mengabaikan kalo gue sebenarnya punya project yang sampe saat ini belum sempet di anterin ke penerbit. Sampe gue lupa.

Seriusan. Gue lagi merenungi kira – kira apa yang buat gue begitu sibuknya pada tahun ini sampai sampai urusan pribadi gue juga gue tinggalin. Kalo ada yang bisa jawab pertanyaannya, tolong kasih tau. Mungkin aja gue bisa curhat disitu.

Ketika gue nulis ini, tepat dimalam pergantian tahun ini. Gue merasa bersalah banget pada diri gue. Gue hanya iba melihat diri gue. Bukan Karena gue jelek bukan. Itumah udah takdir, mungkin. Tapi Karena sebegitu sibukkah gue ? atau gue udah mulai pikun sehingga lalai dengan semua nya ? entahlah…
Dengan adanya tulisan ini, dan dengan memulai dengan pemikiran baru. Semoga pemikiran yang positif ini terus menuntun gue dalam kehidupan menuju ke sang Maha Kebenaran.
Penting atau tidaknya tulisan ini bagi yang baca, itu terserah. Hihi. Kali ini gue nulis egois buat diri gue sendiri.
Dengan permohonan maaf dari gue, gue akan merubah domain blog gue ini menjadi ke Premium. Bukan lagi blogspot. Maafin gue ya. Semoga dengan sedikit usaha gue jadi lebih sadar dan tanggung jawab terhadap apa yang sedang gue kerjakan.

Tulisan kacau gue ini tidak lain Karena menurut gue di tahun 2016 ini gue juga kacau. Kuliah mulai di tinggal, pengeluaran engga teratur, project pribadi juga engga rampung, dan masih jomblo pula, heu.
Makanya dipergantian tahun ini, gue memilih buat nyepi dari keramaian. Buat apa? Setidaknya dengan begitu gue bisa mikir kenapa sepanjang tahun ini gue malah kurang produktif. Kenapa gue malah kebanyakan nengok sana kemari yang buat gue engga focus. Dan setidaknya dengan gue menyepi ini. Tulisan ini bisa terposting.
Resolusi buat tahun 2017 ?
Tahun lalu aja masih banyak yang harus di kejar J


Monday, August 1, 2016

Bangun Masih Bermimpi – Cerita si Koki Jalanan

Ini gue udah bangun ?



Ini adalah kesekian lapernya gue dimalam hari. Yang buat gue jadi kebangun dan gagal untuk menghemat. Yaps, hari ini hari Minggu, dan itu tandanya hari libur. Bagi gue, devinisi libur itu beragam dan sering gue kombinasiin. Salah satu kombinasinya ya terjadi pada Minggu ini. Gue coba libur untuk beraktivitas dan libur, makan.
Jadi tadi pagi gue Cuma makan sereal Energen dan siangnya gue coba untuk nonton film yang gue fikir bakal bisa ngilangin laper, ternyata engga, masih tetep laper dan gue mutusin buat, tidur.
Sampe malem ini, gue baru bangun. Dan gue engga tahan akhirnya pergi untuk nyari makan.
Gue keluar pager, ternyata warteg sudah tutup. Gue tanyain kenapa tutup ke penjualnya. Dan penjual itu jawab: “Maap mas, kalo mau nyari Bodrek jangan di warung saya”.

Bukan banyolan garing gue itu pointnya. Ini tentang pertanyaan gue, apakah gue masih tidur atau sudah bangun ? kok masih bermimpi.


Saat gue dateng ke tukang nasi goreng langganan gue di pertigaan jalan yang mau ke arah kost, tidak ada hal yang spesial, walaupun ramainya tukang nasi goreng itu ada yang ganjil menurut gue. Kalo Cuma rame saja sih, di nasi goreng itu udah biasa. Emang setiap harinya rame. Tapi ini menurut gue ada yang ganjil, dan ternyata yang ganjil itu adakah: duit gue ketinggalan.
Setelah gue balik dan ambil dompet, dan balik lagi ke tukang nasi goreng. Pas cek isi dompet, ternyata adalagi yang ketinggalan yaitu, SIM gue ketinggalan. Tapi kali ini gue engga balik lagi ke kost. Bukan masalah ini sudah malem atau karena ini jalanan kampung yang engga bakalan ada polisi. Karena menurut gue, kesiapan kita untuk mematuhi aturan lalu lintas harus lah selalu siap. Toh demi kebaikan kita sendiri. Ada atau tidak adanya polisi, aturan tetaplah aturan. Tetapi ini beda, hal yang membuat gue engga balik lagi ke kost karena: gue make sepeda.


Terlihat salah seorang bapak-bapak terlihat sedang mengawasi koki nasi goreng itu masak. Bapak itu terlihat seperti sosok preman jaman dulu. Dengan tato di tanga, codet di muka, anting di sepanjang daun telinga dan celana yang di lututnya sobek. Bapak itu mirip dengan tokoh Bujang “Babi Hutan” dalam Novel “Pulang” karya Tere Liye.
Terlihat sekali koki itu terasa risih dengan pandangan bapak itu. Terlebih ternyata bapak itu selalu berkomentar terhadap perubahan dalam masakan sang koki. Bilang kalau Nasi Gorengnya kenapa warna nya engga merahlah, Nasi Gorengnya jangan make kecaplah, jangan sampe pedas lah dan masih banyak lagi kicauan bapak itu. Gue udah pusing dengernya.
Bayangin, awalnya bapak itu bertanya kenapa nasi gorengnya tidak berwarna merah, sementara bapak itu tidak mau banyak-banyak pake kecap di nasi gorengnya? Setau gue, warna merah nasi goreng itu berasal dari kecap. Terus kalo bapak itu engga mau banyak kecapnya gimana ?
Ternyata koki nasi goreng ini punya cara lain untuk membuat warna nasi gorengnya menjadi merah. Yaitu dengan menambahkan sambal yang terbuat dari cabai dan itu akan membuat masakan menjadi kemerahan
Tapi masalahnya, sekali lagi, bapak itu minta supaya nasi gorengnya tidak mau pedas.
Dari tempat duduk yang biasanya di pergunakan untuk pembeli ngantri, gue lihat raut muka si koki yang begitu cuek menanganinya. Gue yakin, pengalaman tuh koki menghadapi pembeli seperti kaya gini sudah banyak.
Ternyata setelah nasi goreng itu sudah jadi--dengan cueknya si koki dan bapak-bapak masih terus berkomentar meminta ini itu--, nasi goreng itu kemudian dibungkus oleh pelayan dan mengasihkannya kepada bapak itu.
Ternyata, untuk selektif terhadap apa yang terjadi pada kita, termasuk jenis makanan yang harus sesuai dengan selera dan keinginan, kita telah mempersulit orang lain. Tidak semuanya memang, tapi gue yakin bapak-bapak itu tidak sadar melakukannya. Dan itu berarti kita juga bisa saja tidak sadar melakukan hal yang serupa terhadap orang lain. wallahu a'lam.


Dalam dunia IT, memang sering terjadi hal seperti ini. Banyak yang meminta agar data-data nya aman, tapi orang akan sangat kesal jika sedikit-dikit sistem meminta untuk memasukan password, padahal langkah itu dinilai efektif untuk mengamankan sistem dari berbagai serangan.
Dan ini lagi – lagi untuk mewujudkan keinginan kita, ada orang-orang yang tentu akan direpotkan. Kita juga harus siap direpotkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kalau tidak mau repot, ya berarti jangan coba – coba menginginkan sesuatu hal yang bersifat pribadi namun bergantung pada orang lain.

Setelah bapak-bapak itu pergi. Pesanan gue pun di buat. Gue nunggu. Dan ada pembeli lain datang. Kali ini ibu – ibu.
Permintaan ibu – ibu itu aneh. Dia beli enam bungkus nasi goreng, tapi si tukang nasi goreng itu harus mau nurutin kemauan si ibu agar si ibu mau membeli enam bungkus nasi goreng langsung. Permintaannya ada pada tata cara bagaimana masak telornya.
Kalo gue yang jadi koki nya, pasti gue udah nyuruh ibu itu supaya bikin sendiri nasi gorengnya. Bayangin aja koki nasi goreng aja masih di atur tentang masalah masak telor.
Tapi ternyata dugaan gue salah. Dan kayanya gue berdosa -_-
Ibu itu minta agar telornya di bagi sesuai keinginannya. Disini gue, koki dan pembeli lain dia ajak bermain logika. Menurut ibu itu, kalau dia beli enam bungkus nasi goreng, berarti dia juga mendapatkan enam butir telur. Ibu itu  meminta agar telur itu tidak di masak sekaligus, melainkan dibagi menjadi: dua butir dihancurin, empat butirnya di dadar yang kemudian empat butir telor dadar itu dibagi supaya ke enam bungkung nasi gorengnya itu kebagian semua telor dadar.
Ini trik kelas dewa.
Dengan seperti itu, ibu itu berpendapat kalau dengan begitu berarti dalam satu bungkus nasi goreng akan terdapat dua jenis telor yang beda cara masak nya. Satu jenis telor dihancurin kaya nasi goreng biasanya, satunya lagi dia dapat rasain telor yang didadar utuh. Amazing pemikiran ibu ini.
Gue rasa sih ibu ini sering banget beli nasi goreng dengan jumlah banyak dan merasa kehilangan telurnya. Mungkin ibu itu menganggap kalau dia beli enam bungkus nasi goreng, abang nasi gorengnya tidak ngasih enam butir telor. Karena seberapa banyaknya telor jika di hancurkan dan dicampur dengan nasi, telor – telor itu kayanya engga bakal kelihatan. Dan mungkin itu yang ibu ini rasain sehingga ibu ini menciptakan Resep Ajaib ini.


Diluar itu semua, gue beruntung dalam kasus ini abang nasi gorengnya terlihat sangat pengalaman menanggapi pembeli – pembelinya.
Gue sih engga punya masalah dengan bapak – bapak maupun ibu ini. Mereka punya hak masing – masing sebagai pembeli. Mereka berhak meminta hak mereka sebagai pembeli nasi goreng. Yang gue masalahin adalah, koki itu jadi lama masak pesenan gue yang sedang kelaperan ini. Entah gue sedang bermimpi ataupun sudah bangun, yang jelas gue laper, pak, buk! Cukuplah kalian membuat susah koki nasi goreng ini saja, jangan membuat susah hamba yang sudah susah ini, hiks.



PS : Janganlah membuat susah orang lain, apalagi membuat susah mahasiswa yang sedang lapar. Atau anda akan di ceritakan dalam blognya!

Sunday, July 10, 2016

Apa Aku Salah Memilikimu ?

Aku, Engkau dan tak ada lagi.

….

Ketertarikan seseorang terhadap lawan jenisnya bisa melalui beberapa faktor. Fisik, sifat, watak, bahkan kepintaran. Tapi apakah ada seseorang yang tertarik dengan lawan jenisnya karena namanya. Contohnya jika kita baru saja putus dengan sang kekasih kemudian kita menemukan sesorang yang mempunyai nama yang sama dengannya, kemudian kita tertarik kepadanya, apa ini hanya karena nama ?
Segimanapun miripnya suatu nama, namun belum tentu kita akan tertarik dengan seseorang yang meiliki nama itu jika tidak ada faktor lain. Dan apakah aku salah jika ingin memilikimu, wahai sang pemilik nama itu ?

Kamu tau, diperlukan dua orang manusia yang hebat untuk dapat menjalin suatu hubungan. Tidak bisa kita saling melengkapi. Karena jikapun aku seorang lelaki yang tidak banyak hafalan Al - Qur’an nya kemudian aku memilihmu sebagai istri karena engkau hafiz Al – Qur’an, tetapi tidak akan mungkin kamu menjadi seorang imam. Jika pun aku seorang koki yang handal masak, pasti aku akan selalu meminta kamu memasak jika dirumah. Karena itu kita harus sama – sama kuat.
Dan jika kamu memang harus memantaskan diri agar menjadi kuat. Aku maklumi itu. Karena aku pun begitu. Tetapi apakah kamu tidak mau menjadi kuat bersama – sama ? berjuang bersama – sama ?
Karena berjuang tidak sebecanda itu.


Apa aku salah memilikmu ?
Aku tau, dalam agama pacaran tidaklah dibenarkan. Tapi kepastian itu perlu diberikan. Sebagiamana kepastian dalam sebuah perjanjian. Dalam sebuah janji, kita harus tau apakah kita dapat menepatinya atau tidak. Dari situ orang yang berjanji dengan kita tidak akan bisa menunggu. Kita harus bisa memberi kepastian apakah kita bisa berjanji atau tidak. Apakah kita bisa menepatinya atau tidak.
Dan aku pun seperti itu, bukan hanya perempuan, lelaki pun sama. Memerlukan kepastian apakah kamu bisa diajak untuk berjuang atau hanya bisa di ajak untuk dibuang dalam kenangan.

Sunday, April 17, 2016

Engkau!


Gue sebenernya ragu buat nulis ini.
Karena gue engga tau mau mulainya darimana.
Gue sebenernya pengen nulis ini.
Tapi entah kenapa baru sekarang gue memulainya.

Dengan sisa kekuatan yang belek yang masih nempel di mata sebalah kanan. Gue akan coba bales tulisan kampret lu itu. Walaupun gue tau, gue akan kalah kampret. Melihat kenyataan seperti dibawah ini, curahan perasaan lu yang begitu kampret.

:)

Makanya gue ragu buat bales tulisan kampret itu. Hiks.
 Link tulisan kampret : kupukura.wordpress.com
Hola, gue sengaja nunjukin Screenshot itu, supaya kalian merasa iba dan kalian tidak akan nyesel kalo baca tulisan gue ini yang ternyata jelek. Gue jamin engga bakal nyesel :D

Oke Mulai,
Gue tau, itu diatas bukan awal tulisan yang baik, bukan pendahuluan untuk tulisan yang di tunggu. Tapi inilah kenyataannya. Hambar. Selera humor gue turun.
Dear kamu,
Gue memulai tulisan ini dengan kembali berkali-kali membaca tulisanmu itu. Bukan karena gue kagum akan tulisanmu itu, tapi gue hanya ingin mengembalikan sedikit mood ini yang sedikit hilang. Selain karena minggu depan gue UTS, juga ada hal lain yang menyebabkan mood gue hilang. Dan yang jelas itu bukan karena tulisanmu yang mencerminkan kalau kamu sedang sakit. Maaf :D
Nur,. Kamu sehat malam ini? Tentu tidak. Gue tau perasaan anak kost yang seperti sedang sekarat saat hidungmu mampet dan terpaksa ketemu AC setiap hari. Gue tau kamu akan protes ketika gue sebutkan kalo kamu ketemu AC tiap hari, karena gue yakin AC di kelas bisa saja dihindari dengan kamu duduk jauh-jauh dari sumber AC itu, dan gue juga yakin kalau ditempat kost kamu tidak mungkin ada alat secanggih itu. Tapi yang gue maksud AC disini bukanlah Air Conditioner. Tapi melainkan Air Cebok. Karena disini gue harus bergelut dengan AC macam seperti itu tiap hari, dan kenapa gue yakin kamu juga merasakan hal yang sama? Seharusnya ini engga lucu.
Gue engga pernah berbuat ini sebelumnya. Menyepelekan penyakit-penyakit anak kost yang sedang kamu derita. Tapi ini karena gue mengganggap kamu “berbeda”. Karena apa yang gue lakukan dengan temen gue yang lainnya, akan terasa sangat menjijikan jika gue lakukan ke kamu. Gue engga mungkin datang ke kost kamu dengan mambawa Vitamin B Complex IPI seperti yang gue lakukan saat si Ipul sakit kemaren. Kecuali gue udah berhasil merebut sajahdahnya si Aladeen. Atau apa yang gue lakukan ketika si Imah (Kucing bapak kost) sakit. Saat itu gue bolos kuliah dan membawa si Imah ke pet shop. Tentu kamu engga akan tega kan kalau gue bolos kuliah demi membawa kamu ke pet shop kan ?
Apa yang gue ceritakan belum tentu semua manusia didunia ini tau. Karena apa yang gue ceritakan ke kamu tidak diceritakan ulang ke orang lain. Kecuali agen FBI udah mencium rencana kita. Apakah ini lebay ? Gue rasa tidak. Semua perbincangan kita gue anggep rahasia. Walaupun kamu anggap itu becanda, tapi bagiku itu emang becanda.
Gue engga tau mau ngasih ending seperti apa. Masih banyak yang ingin gue bahas. Tapi gue takut akan salah, seperti gue menebak sikap teman-teman kamu itu. Tapi menurut gue, pertemuan menjadi judul yang pantas untuk tulisan selanjutnya.
Ada satu kata yang engkau utarakan dalam tulisanmu itu. Yaitu saat kamu ragu akan waktu yang aku punya untuk meluangkanya menulis tentang kamu. Dan itu salah. Karena gue selalu mempunyai waktu untuk melakukannya itu. Ini menjadi balasan yang tidak pantas disaat waktu yang tepat.

And, thanks for approve me always your time.
Sorry, I didn’t say hello polite. I just was setting way back.

PS:
Saat perjuangan terhenti karena Doa-nya. Berjuanglah untuk selalu mendoakannya.

Monday, March 28, 2016

ELKA



Bagi gue. Malam ini adalah malam penuh keajaiban. Hari ini merupakan hari penuh kesempurnaan. Dan minggu ini ialah minggu yang sangat mengenangkan.
Begitu ucapan kata pengantar modul praktikum gue yang barusan gue selesaikan.



Bagi gue, engga ada hal yang menyakitkan dari senyuman yang diberikan oleh orang yang telah kita lukai. Senyuman kelikhlasan dari seseorang yang telah terluka atas apa yang kita lakukan. Entah senyuman itu palsu ataupun tidak. Tetapi gue tetep membenci senyuman itu.
Sebuah tindakan yang tidak menyenangkan bagi seseorang, terkadang dengan mudahnya kita lakukan. Entah itu tidak sengaja ataupun sengaja. Banyak faktor yang membekali atas tindakan itu, salah satunya balas dendam. Mereka yang merasa tidak terima atas apa yang dilakukan oleh orang lain akan selalu merasa was – was dan berujung pada tindakan balas dendam.
Perasaan was – was sangat menjijikan jika dilihat dari segi kehidupan kita yang sudah nyaman. Oleh karena itu, perasaan seperti itu sangat gue hindari. Tindakan balas dendam hanya akan mengakibatkan kita jauh dari myself comfortable.

Dan sekarang gue baru saja merasakan tindakan yang dilakukan oleh “mereka” yang tidak menyenangkan. Gue merasa diperlakukan sedikit tidak nyaman. Hal yang seharusnya bisa diselesaikan secara bersamaan, namun dilakukan hanya oleh “kita”. Hal yang seharusnya tidak untuk ditertawakan, tetapi “mereka” hanya dapat menangis melihat “kita”. Bukan balas dendam.
Latihan Kepemimpinan.

Yapos, gue baru balik dari acara kepemimpinan. Tepatnya gue sudah semalam bisa tidur nyenyak di kasur gue sendiri. Empat hari tiga malam terlewati.
Walau tidak menyenangkan. Tapi gue yakin. Ini bukan tindak kekerasan, apalagi balas dendam. Ini hanya masalah sudut pandang dan kedewasaan. Dan “Mereka” berhasil berubah segi tersebut dari diri “kita”.

Lelah, capek, dan tidak semalam terasa bisa merasakan getaran nadi diri sendiri.

Dan gue akhirnya menemukan jawaban ketidakpastian dari ke-senioritasan dalam beberapa acara Latihan Kepemimpinan.
Argumen dari mereka atas jawaban untuk pertanyaan “Kenapa kami dihukum seperti ini ? Apakah setelah kami di push up dengan hitungan yang engga bisa di uraikan pake rumus aljabar linier ini bisa menggalahkan legenda mak lampir ?”
Jawaban mereka yang selalu tidak disertai empiris yang tepat. Mereka selalu menjawab dengan: Ini demi kebaikan kalian semua.
Namun dari segi yang lain, gue dapat merasakan manfaat dari tindakan mereka, yaitu buat dua sampai tiga hari setelah selesai acara. Untuk melanjutkan kehidupan.

Bagi anak kosts kaya gue. Tidak perlu memiliki pakaian yang terlalu banyak. Karena keterbatasan lemari yang ada. Cukup buat kuliah, nongkrong, dan pacaran sama Karya.

Dan setelah ikuti acara Latihan Kepemimpinan selama empat hari. Pakaian gue ludes. Dan dari situ gue dapat pencerahan atas manfaat dari hukuman yang diberikan saat di acara kemaren.
Entah seberapa banyak hukuman yang diterima. Namun gue tetep berterima kasih. Karena dengan hukuman yang diberikan, gue jadi kuat untuk mencuci pakaian sebanyak tiga ember besar selama tiga jam ini.
Gue jadi bisa kuat buat nyuci tiga ember pakaian, dan bisa melanjutkan kehidupan. Walaupun kehidupannya tetap kembali lagi ke kasur untuk membenarkan posisi tulang belakang.

Tips: Kalaupun kalian yang ikut acara Kepemimpinan semacem yang gue rasain ini dan kalian masih kecapean, berarti kalian harus banyak – banyak dihukum lagi dengan gaya ngaduk dodol. Atau kalian harus beli mesin cuci, harganya murah kok, bisa dilihat di lapak gue di http://www.bukalapak.com/marmutmapia .
Dan gue promosi yang engga penting :D


And for LKMU XIII, I say thank you for spirit to make me something.

Saturday, February 27, 2016

Tutorial – Membuat Kipas Bambu versi Ade

Tutorial – Membuat Kipas Bambu versi Ade
HOLA!
Ketemu lagi dan akhirnya gue bisa nge-blog lagi setelah gue pulang kampung. Sebenernya ini juga kenang-kenangan dari pulang kampungnya gue. Jadi selain gue tukang ngabisin makanan dan deterjen di rumah, gue juga ada kegiatan lain, apa kagiatannya ?
Membuat Kipas Bambu.
Coba baca lagi tapi dengan nada Doraemon ngeluarin baling – baling bambu dari kantong ajaibnya. “Membuat Kipas Bambu”. Gak penting banget ?

Oke oke, langsung aja ke inti permasalahan. Cara membuat kipas bambu versi Ade.
  1. Beli Bambu
    Ini adalah hal yang sangat dasar untuk membuat kipas bambu. Yaitu Bambunya. Kita harus punya bambu untuk membuat kipas bambu. Kita harus punya kipas untuk membuat bambu kipas. Apasih.
    Yang perlu diingat adalah kata “Beli”. Jangan sampe engga mau modal, karena kita lelaki.
  2. Bawa pulang bambu ke rumah
    Ini penting. Karena jika kita bawa bambunya ke abang sate maka bambu itu akan dibuat jadi tusuk sate.
    Ini engga penting.
  3. Haluskan Bambu
    Untuk mempermudah penganyaman, maka bambu harus dihaluskan dengan cara membersihkan kulit luar bambu.

  4. Potong Bambu
    Contoh bambu yang sudah dipotong.
  5. Potong bambu menjadi beberapa bagian. Biasanya untuk memotong bambu seperti ini, panjangnya disesuaikan sesuai panjang ruasnya.

  6. Belah Bambu
    Belah lah bambu yang sudah dipotong tadi menjadi beberapa bagian.
    Bambu setelah dibelah
    Usahakan dalam membelah mambu sesuai dengan ukuran yang diinginkan dan lurus. Jika untuk membuat anyaman seperti kipas bambu, maka usahakan agar ukurannya sama karena anyaman di kipas bambu konvensional adalah berbentuk persegi.
    Nah kalo ini sendal yang dipake gue dalam pembuatan kipas bambu ini.
    Harga bisa di nego. Minat Japri langsung.
    Engga penting.

    Cara membeh bambu.

    Nah, terbelah juga kan.
    Gue tau kok kalian fokusnya kemana.
    Hmmm..

    Semoga kalian tau perbedaannya membelah dan memotong Bambu.


  7. Belah lagi menjadi dua bagian
    Setelah bambu tadi dibelah. Maka belahan tadi di belah lagi. Karena apa? untuk dapat di  anyam, bambu harus di belah berulang – ulang agar menjadi tipis. Tipisnya bambu disesuaikan untuk keperluan anyaman itu sendiri. Perlu diperhatikan, karena ini anyaman maka untuk mengukur ketebalan hasil dari anyaman kita adalah dengan dua kali bahan anyam tersebut. Karena anyaman adalah bertumpuk. Nah jadi kalo untuk membuat kipas bambu usahakan bahan anyam dari bambunya jangan terlalu tebal. Karena jika tebal nanti akan berat dan terlalu keras sehingga sulit untuk di kipas – kipaskan.
    Ini intinya.
Membelah tengah bambu
Perlu kesabaran agar memperoleh hasil belahan bambu yang bagus. Karena jika kita tidak sabar maka hasilnya tidak akan lurus antara ruang atas dengan bawahnya. Dan jika seperti itu maka hasilnya tidak akan sama besar.
Usahakan agar hasilnya sama besar.
Fokus kebambunya yaa..
Hmmm…



Perlu di akui, bagi pemula seperti gue, ini sangat melelahkan dan membutuhkan kosntrasi.
Oleh karena itu harus ada sesuatu yang kita sukai untuk mengalihkan kejenuhan.
Misal: Kamu suka ngopi, maka sediakan kopi. Kamu suka baca komik, sediakan komik. Kamu butuh pacar, berarti kamu jomblo.

  1. Irat
    Irat adalah membelah bambu hingga tidak bisa dibelah lagi. Entah dari bahasa mana gue juga ga tau. Yang jelas gue dikasih taunya kalo kegiatan ini namanya “Irat”.
    Hasil setelah di Irat.
    Dan pliss itu tangan cowo, jangan bilang tanganya kaya tangan cewe.

    Untuk menghasilkan hasil Irat yang bagus, diperlukan keahlian dan alat pendukung lainnya. Alat pendukung maksudnya seperti Bambu yang membuai alur atau garis – garis didalamnya. Biasanya bambu seperti ini bisa dijumpai di daerah – daerah pengrajin dan gue ga tau itu dimana. (Ya emang berita dari gue ini ga bisa dipercaya). Kalo yang gue pake ini bambu hijau, jelasnya gue ga nanya siapa dan darimana bambu itu berasal, karena ketika gue minta KTP nya dia diem aja. Gue mulai gila.
    Selain bambu, pisau atau golok untuk mengirat pun mempengaruhi. Usahakan cari pisau yang ujungnya runcing dan tajam.
    Cara mengirat yang baik versi gue yaitu seperti berikut.
  1. Ambil bambu yang sudah di belah.
  2. Lengkungkan dengan posisi bagian bawah di tahan dengan kaki.

  3. Iris bagian atas dengan pisau dan kelupas. Jangan iris terlalu dalam.
    Jika bambu mendukung, maka hasil seperti ini akan mudah didapatkan.

  4. Lanjutkan kelupas dengan tangan, hati – hati usahakan rata dan lurus. Perlu kesabaran.
  5. Lakukan sampai habis dan tidak bisa di kelupas lagi. Agar lebih bagus sebaiknya bagian terakhir dibuang saja.
    Sekali lagi, itu tangan cowo -_-

  1. Jemur
    Jemur lah hasil Irat tadi agar lebih lemas sehingga akan mudah dibentuk.

    Buatlah sebanyak mungkin bahan dan hasil Irat-an.

  2. Membuat Pegangan
    Untuk menunggu bahan kering, kita buat pegangan kipasnya.
    Potong bambu yang lain, sisa bambu atau kalau udah terlanjur di irat semua maka harus beli lagi. Jangan paksain cabut pager depan rumah ya!
    Potong bambu seukuran 45 – 50 cm untuk pegangan kipas. Ukuran ini bisa di sesuaikan dengan ukuran kipas bambu yang ingin kita buat.

  3. Mengayam
    Ini hal yang paling penting untuk membentuk hasil dari produk kipas angin tersebut. Dan untuk bagian ini gue minta maaf ga bisa jelasin dengan kata-kata. Langsung aja gue kasih contoh gambarnya.
    Ini masih jelek
    Ini juga masih ga rapih

    Ini juga sama ga rapih karena barangnya sama, Cuma beda penempatan doang. Jangan ketipu :D

    Dan itulah contoh yang bisa gue kasih. Kalo jelek ya mohon maaf. Kalo kurang rapih ya wajar, namanya juga masih belajar.
    Yuk kita belajar bareng, untuk mengembangkan usaha tradisional.
    Percaya, mempunyai keterampilan sangat bermanfaat untuk dihari tua kita.

Oke, Kalo mau order langsung saja hubungi Bpk. Suwenda (085321636226) :D