Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts

Monday, March 28, 2016

ELKA



Bagi gue. Malam ini adalah malam penuh keajaiban. Hari ini merupakan hari penuh kesempurnaan. Dan minggu ini ialah minggu yang sangat mengenangkan.
Begitu ucapan kata pengantar modul praktikum gue yang barusan gue selesaikan.



Bagi gue, engga ada hal yang menyakitkan dari senyuman yang diberikan oleh orang yang telah kita lukai. Senyuman kelikhlasan dari seseorang yang telah terluka atas apa yang kita lakukan. Entah senyuman itu palsu ataupun tidak. Tetapi gue tetep membenci senyuman itu.
Sebuah tindakan yang tidak menyenangkan bagi seseorang, terkadang dengan mudahnya kita lakukan. Entah itu tidak sengaja ataupun sengaja. Banyak faktor yang membekali atas tindakan itu, salah satunya balas dendam. Mereka yang merasa tidak terima atas apa yang dilakukan oleh orang lain akan selalu merasa was – was dan berujung pada tindakan balas dendam.
Perasaan was – was sangat menjijikan jika dilihat dari segi kehidupan kita yang sudah nyaman. Oleh karena itu, perasaan seperti itu sangat gue hindari. Tindakan balas dendam hanya akan mengakibatkan kita jauh dari myself comfortable.

Dan sekarang gue baru saja merasakan tindakan yang dilakukan oleh “mereka” yang tidak menyenangkan. Gue merasa diperlakukan sedikit tidak nyaman. Hal yang seharusnya bisa diselesaikan secara bersamaan, namun dilakukan hanya oleh “kita”. Hal yang seharusnya tidak untuk ditertawakan, tetapi “mereka” hanya dapat menangis melihat “kita”. Bukan balas dendam.
Latihan Kepemimpinan.

Yapos, gue baru balik dari acara kepemimpinan. Tepatnya gue sudah semalam bisa tidur nyenyak di kasur gue sendiri. Empat hari tiga malam terlewati.
Walau tidak menyenangkan. Tapi gue yakin. Ini bukan tindak kekerasan, apalagi balas dendam. Ini hanya masalah sudut pandang dan kedewasaan. Dan “Mereka” berhasil berubah segi tersebut dari diri “kita”.

Lelah, capek, dan tidak semalam terasa bisa merasakan getaran nadi diri sendiri.

Dan gue akhirnya menemukan jawaban ketidakpastian dari ke-senioritasan dalam beberapa acara Latihan Kepemimpinan.
Argumen dari mereka atas jawaban untuk pertanyaan “Kenapa kami dihukum seperti ini ? Apakah setelah kami di push up dengan hitungan yang engga bisa di uraikan pake rumus aljabar linier ini bisa menggalahkan legenda mak lampir ?”
Jawaban mereka yang selalu tidak disertai empiris yang tepat. Mereka selalu menjawab dengan: Ini demi kebaikan kalian semua.
Namun dari segi yang lain, gue dapat merasakan manfaat dari tindakan mereka, yaitu buat dua sampai tiga hari setelah selesai acara. Untuk melanjutkan kehidupan.

Bagi anak kosts kaya gue. Tidak perlu memiliki pakaian yang terlalu banyak. Karena keterbatasan lemari yang ada. Cukup buat kuliah, nongkrong, dan pacaran sama Karya.

Dan setelah ikuti acara Latihan Kepemimpinan selama empat hari. Pakaian gue ludes. Dan dari situ gue dapat pencerahan atas manfaat dari hukuman yang diberikan saat di acara kemaren.
Entah seberapa banyak hukuman yang diterima. Namun gue tetep berterima kasih. Karena dengan hukuman yang diberikan, gue jadi kuat untuk mencuci pakaian sebanyak tiga ember besar selama tiga jam ini.
Gue jadi bisa kuat buat nyuci tiga ember pakaian, dan bisa melanjutkan kehidupan. Walaupun kehidupannya tetap kembali lagi ke kasur untuk membenarkan posisi tulang belakang.

Tips: Kalaupun kalian yang ikut acara Kepemimpinan semacem yang gue rasain ini dan kalian masih kecapean, berarti kalian harus banyak – banyak dihukum lagi dengan gaya ngaduk dodol. Atau kalian harus beli mesin cuci, harganya murah kok, bisa dilihat di lapak gue di http://www.bukalapak.com/marmutmapia .
Dan gue promosi yang engga penting :D


And for LKMU XIII, I say thank you for spirit to make me something.

Thursday, July 16, 2015

Kesan, Pesan dan Desahan Selama Ramadhan

Ramadhan…
Ramadhan…
Ramadhan…
Marhaban yaa Ramadhan…
Bulan suci penuh ampunan…
Bulan penuh berkah…
Ramadhan…


Ramadhan, Bulan yang biasa – biasa saja bagi sebagian mereka yang seharus nya tau itu tak biasa, Bulan yang melelahkan bagi mereka yang seharusnya tau mereka harus lebih semangat menjalani hidup, Bulan yang merepotkan bagi mereka yang terbiasa nya kehidupan instan. Ramadhan, tidak semua bisa merasakan maknaMu.
Hampir semua orang sibuk mempersiapkan diri dan sarana untuk keperluan Ramadhan. Merenovasi masjid, menyiapkan menu-menu berbuka, siap-siap masang alarm untuk sahur, membuat kentongan untuk pawai tiap hari menjelang sahur, semua nya harus dipersiapkan. Dari anak – anak sampai semua orang dewasa begitu bersemangat menyambut bulan yang penuh berkah ini, semua orang menganggap ini bukan bulan yang biasa, untuk itu mereka harus mempersiapkan semuanya.
Tapi, disini, semua orang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, seolah tak peduli dengan bulan Ramadhan. Seminggu sebelum Ramadhan datang tak ada kegiatan yang mencerminkan untuk menyambut bulan penuh berkah ini, Musholla masih seperti biasanya —Masih dipenuhi dengan kakek-kakek tua— yang setia dengan sujudnya. Lalu lalang mobile transportasi masih sibuk dengan di tandai suara bisingnya. Semuanya, seperti tak menganggapnya ada. (Ramadhan).
Tak semua nya bisa merasakan berkah-Mu di bulan yang suci ini.
Namun, disini baru terlihat berbeda saat Ramadhan datang, meski awalnya seperti banyak yang acuh dan tak ada yang mempersiapkan Ramadhan ini, tapi ketika saat nya datang, mereka berubah, siap menghadapi Ramadhan. Hahaa.. yap, aku memang baru disini, mungkin disini berbeda dengan daerah ku disana, yeah, jauh berbeda, untuk itu aku menilai seperti apa yang aku katakan tadi namun ternyata salah, mereka jauh lebih siap dan mungkin sudah dianggap biasa Ramadhan datang sehingga mereka akan siap saat Ramadhan datang, seolah – olah mereka siap kapan pun jika Ramadhan datang kapan pun juga.
Musholla penuh, Masjid pun kini dibanjiri masyarakat sekitar yang ingin bersujud di sajadahNya. Jalan-jalan setiap sore pun padat, tidak sepadat biasanya. Yang biasanya padat karena ingin cepat sampai di rumah, namun kali ini padat karena mereka ingin menikmati sore bersama orang-orang yang mereka sayangi. Terlihat bapak-bapak sangat Romantis mengayuh sepeda di jalan perumahan yang mewah ini, terlihat pula ada orang chinese sedang berlari lari sore dengan anjingnya yang mungkin sudah menjadi kebiasaannya, namun sekarang berbeda, orang itu terlihat sangat ceria karena melihat begitu ramainya di daerah itu, tidak seperti hari-hari biasa dia berlari.
Ramadhan datang membawa keceriaan…

Setiap orang pastilah mempunyai kesannya masing-masing terhadap suatu momentum, tak terkecuali momentum Ramadhan ini. Tidak seperti Ramadhan sebelumnya, Ramadhan kali ini sangat bermakna bagi aku. Ramadhan yang memberi banyak pelajaran, memberi banyak hidayah.
Melihat banyak nya kegiatan penuh senyum di bulan Ramadhan di sekitar tempat aku ngekost, aku juga mempunyai kegiatan luar biasa di bulan Ramadhan ini. Yaps, Ramadhan kali ini bagi aku berbeda dengan Ramadhan-ramadhan yang lainnya. Ramadhan kali ini aku bisa lebih di beri kesempatan untuk belajar memperbaiki aqidah dan akhlak-akhlak untuk dapat memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini. Ramadhan oh ramadhan, Terimakasih.
Walau ini bukan seperti aku, tapi aku yakin ini lah aku yang sesungguh nya. Walaupun terasa aneh dengan bersikap berbeda, tapi mungkin ini adalah awal agar bisa menemukan jati diri sebagai aku sebenarnya. Tantangan berat dengan tujuan luar biasa pada Ramadhan kali ini. Masjid menjadi tempat persemayaman, menyiapkan acara beberapa kegiatan mendukung beribadah di bulan Ramadhan, mendekat kan kepada masjid. Subhanallah.
Walaupun harus meninggalkan beberapa kebiasaan, tapi mungkin inilah tantangannya. Tidak seperti hal nya tahun-tahun sebelumnya yang setiap sore gatel untuk berjalan-jalan menikmati menunggu waktu berbuka, Ramadhan kali ini berbeda, Masjid menjadi tempat yang sangat di rindukan pada saat-saat seperti itu. Bukan tidak ada kendaraan karena aku tidak di rumah, bukan juga karena membutuhkan makanan gratis yang disediakan masjid, tapi ada sesuatu kerinduan yang lebih besar dari itu semua, seperti sekarang, aku sudah tak bisa lagi ke masjid itu, aku merindukannya.
Dan kebiasaan yang mungkin akan hilang pada tahun ini, bakal lebih berdiam diri merenungi arti perpisahan dengan semua teman masa SMK yang kini sudah tak bisa berjumpa. Resiko anak SMK yang memang ketika lulus kebanyakan diharuskan bekerja dan akan terikat oleh suatu instansi, itu memungkinkan untuk tidak bisa bertemu pada tahun ini. Merenungi perpisahan. Tapi, kita semua harus mengakui rasa rindu ingin berjumpa dengan seorang sahabat. Dan kita harus berjuang terlebih dahulu dijalan masing-masing agar bisa bertemu suatu hari nanti, dengan senyuman lebar, sukses J.
Banyak keluarga, tak bisa bertemu, banyak juga yang tak bisa dipertemukan!
Aku merasa berdosa, bersalah tak bisa berilaturahmi langsung dengan mereka. Aku sombong, aku egois hanya memikirkan diri sendiri!
Mereka jauh, mereka terlalu tinggi untuk aku capai sekarang.
Mereka terlalu membuat aku terlihat menyedihkan.
So, banyak Kesan, pesan dan berbagai desahan yang tercipta dalam Ramadhan ini. Luar biasa Ramadhan!
Ramadhan, mungkin kini engkau akan pergi dan aku belum bisa melakukan apa-apa. Masih tertata tata dalam berjalan untuk meraih ridha Nya.

Tapi Ramadhan, pilih lah aku menjadi salah satu yang bisa bertemu engkau di tahun depan J.

Sunday, April 19, 2015

Mahasiswa Baru


Perpindahan status dari Pelajar ke Mahasiswa itu mungkin seperti perpindahan yang dulunya anak kost sekarangnya mengontrak, berpindah dari kebun binatang ke taman margasatwa. Mungkin karena gue belum lama kuliah dan masih belum bisa menjadi mahasiswa yang sesungguhnya makanya gue ngomong kaya gini.

Kehidupan sekarang dengan status mahasiswa mungkin sedikit menjadi beban ketika gue pulang ke kampung halaman dan sering kali dibandingkan sama anak tetangga yang sekarang sudah bisa menghasilkan uang. Kebalik sama gue yang menghasilkan tumpukan kertas tugas dan tumpukan pakaian kotor.
Dengan status sebagai mahasiswa ini gue dihadapkan dengan beberapa suasana yang waktu SMA gue belum ngerasain. Dari yang kantin kampus selalu ramai didatangi beberapa stasiun TV buat shooting, banyak kontes-kontes remaja dengan pakaian ter-irit, sampai beberapa lumba-lumba pun datang ke kampus saat malam puncak Masa Orientasi. Lumba-lumba tersebut datang dengan aksi mengepakan kedua tangan sambil membusungkan dada dengan mulut monyong mangap terbuka lebar. Tapi saat gue makan di warteg yang ada tv nya gue ngelihat lagi tuh lumba-lumba beraksi hal yang sama seperti saat malam puncak itu. Dan ternyata lumba-lumba itu adalah artis yang lagi ngetop pas gue engga pernah nonton tv lagi. Gue tau setelah gue browsing gambar lumba-lumba yang sesungguhnya yang ternyata engga mirip sama yang gue maksud itu. Gue hanya tau lumba-lumba dari guru TK dan belum pernah ngelihat langsung, makanya gue langsung menyimpulkan saat ada makhluk yang mirip dengan ciri-ciri yang biasa disebutkan guru TK tentang lumba-lumba.
Ini semua akibat suasana diperkuliahan yang terletak di ibukota, gue jadi tukang gosip gini. Gue terlempar jauh dari rumah dan mecoba mencari ilmu di ibukota. Gue mencari ilmu karena kalau gue merantau memperbaiki nasib gue takut pas pulang berubah menjadi batu.
Hingga pada saat nya kelas pertama pada perkuliahan gue dimulai. Dosen mempersilahkan mahasiswanya maju satu per satu untuk memperkenalkan diri. Gue duduk di barisan ketiga dihitung dari depan. Sambil memperhatikan mahasiswa memperkenalkan diri, gue senyum-senyum cengengesan engga jelas mendengar mereka memperkenalkan dirinya. Ini adalah trik PuraPuraMemperhatikanPadahalLagiMikir (PPMPLM). Gue bingung mau ngomong apa kalo sudah bagian gue yang maju memperkenalkan diri didepan. Apa gue harus bilang kalo gue ganteng sampai supir busway pun naksir sama gue? Atau gue memperkenalkan diri dengan menyebutkan asal gue dari kebun binatang mana? Gue terus menerapkan trik PPMPLM.
Hingga akhirnya saat yang engga gue tunggu pun tiba.
“Silahkan selanjutnya”. Suara dosen pun terdengar seperti suara pengeksekusi mati yang mempersilahkan tersangkanya buat di tembak.
Gue maju masih dengan cengengesan. Maju dengan sepatu kegedean dengan kaus kaki yang kepanjangan mirip kaya pemain bola yang bermain dipinggir lapangan ngambilin bola, pake baju kemeja merah darah yang mirip banget kaya orang mau pergi kekondangan mantan, celananya masih model cutbrai model artis 80’an dan hidung gede gue pun memerah dengan di iringi muka cengengesan kaya mau nahan boker.
Gue pun dengan terpaksa maju ke panggung pengeksekusian.
“Perkenalkan, nama saya Ade, saya dari daerah jawa yang berusaha buat menjadi terkenal di Jakarta, setidaknya buat ngalahin badut di ancol. saya dari jusan Teknik Informatika”. Sejenak gue menghela nafas sambil kecewa ternyata tak ada yang memperhatikan selain dosen yang sepertinya mendengarkan tetapi paling besok juga lupa dengan nama gue dan mungkin akan manggil gue dengan sebutan badut ancol. “Mungkin itu saja dari saya sekian dan terimakasih”. Tanpa basa basi lagi gue menyudahi pidato calon badut ancol ini.
Gue ngerasa kaya calon yang pas untuk Badut Ancol versi Kampus setelah penampilan gue yang serba kegedean ini. Namun setelah gue balik ke tempat duduk, ternyata ada yang ngalahin gue sebagai kandidat kuat badut ancol. Namun ini bukan sejenis badut, lebih mirip kaya gajah bengkak engga bisa duduk.
“Nama gue Rindu”. Anak kandidat kuat peraih penghargaan kategori binatang terbengkak ini pun memperkenalkan diri setelah dosen kembali mengeluarkan kata-kata pengeksekusian untuk pesertanya ini.
Dia berbadan sangat besar dengan celana yang tentu mempunyai ukurannya sendiri dan baju dengan model yang belum pernah gue lihat. Dia memakai baju kemeja bahan yang mungkin dibuat oleh penjahit khusus yang dibayarnya untuk mempersiapkan baju-baju nya saat show. Ya seperti saat ini.
Setelah makhluk besar itu tampil, ternyata masih ada lagi yang masih aneh dari anak-anak kelas ini. Dari yang matanya sipit tapi waktu di paksa suruh jadi orang china tapi dianya engga mau karena takut durhaka sama ema nya. Ada yang rambutnya jarang banget, mungkin dia lulusan dari STM atau gue fikir dia lebih terlihat seperti lahan yang harus direboisasi. Kacamata kegedean, sepatu belang-belang, perhiasan berbentuk batu di mana-mana, dan entah apalagi yang akan gue lihat dalam status sebagai mahasiswa ini yang gue fikir ini baru permulaan dalam satu kelas. Gue engga bayangin seberapa banyak nya yang gue temuin orang-orang kaya mereka yang sepertinya cocok untuk bermain dalam film fiksi didalam universitas ini.
Gue rasa kandidat sebagai calon badut ancol pun bisa gue hindari melihat banyak yang lebih menarik dari gue untuk di jadiin bulan-bulanan jajanan kakak-kakak tingkat di kampus ini.
Setelah satu persatu mahasiswa maju memperkenalkan diri, dosen pun kembali menugaskan mahasiswanya untuk membuat kelompok belajar. Gue pun dengan polosnya diam dan memperoleh kelompok seadanya. Gue melihat dikelas waktu itu rame, karna mungkin mereka milih-milih teman belajarnya dengan yang sudah dikenal. Pembagian kelompok pun berakhir dengan damai dari kubu merah yang notabene orang Jakarta yang mempunyai kenalan dikelas dan dari kubu oranye pun damai diam semua karena mereka pendatang, termasuk gue. Akhirnya gue mendapat kelompok belajar dengan lima orang termasuk gue.
Teman kelompok belajar gue berasal dari luar Jakarta semua, paling  juga ada dari Tangerang dan gue tau Tangerang itu sudah termasuk diluar Jakarta semenjak lepas dari Jawa Barat, gue tau itu.
Temen kelompok gue yang dari Tangerang itu bernama Didi. Dia peranakan sunda namun matanya sipit sekali sehingga kalo dia lewat pinggir kolam gue sebagai temen yang peduli terhadap ikan, gue selalu pengangin dia. Gue takut dia engga bisa bedain mana pinggiran kolam sama mana pinggiran peta game. Soalnya hidup dia hanya untuk bermain game.
Inu, iya itu nama temen gue dari banyuwangi yang katanya rumahnya deket dengan gunung, tapi entah gunung apa dia selalu menolak bila disuruh menggambar gunungnya. Belum banyak yang dapat di deskripsikan dari anak banyuwangi ini karena dia lebih memilih diam daripada disuruh maju untuk membayar makan.
Yang berikutnya ada yang namanya Triya, dia keturunan Cina asli namun sejak kecil sudah tinggal di Indonesia, tepatnya di Indramayu Jawa Barat. Gue juga merasa aneh di kalo di Indramayu ternyata ada keturunan Cina. Triya ini temen gue waktu SMK hanya saja beda kelas, karena perbedaan ini kita engga pernah pacaran, ya gue tau kalo gue masih normal.
Yang terakhir dia bernama Shabi. Shabi adalah manusia satu-satunya di kelompok ini yang berasal dari luar pulau jawa. Dia berasal dari daerah Jambi, dan kali ini gue nyerah buat ngarang asal usul nih bocah. Alasannya gue sama sekali belum pernah keluar pulau jawa, kecuali pulau kapuk.

Dimulai dari pembentukan kelompok belajar itu hingga sampai sekarang kita selalu main bareng dan kemana-mana bareng. Dan ternyata ini awal dari malapetaka itu bermula.

Saturday, March 28, 2015

Weekend Activity


Yeaah! Weekend datang lah! Dan akhirnya datang juga tanda di undang.
Weekend enaknya mungkin jalan-jalan atau refrehing bareng pacar, iya pacar gitu. Oke jangan bahas masalah pacar pacaran di blog gue!
Engga seperti mahasiswa normal lain nya yang sekarang lagi pada sibuk jalan-jalan/camping di gunung atau di puncak dengan diriingi raungan senior tiap malam nya, hihih. Serem. Yapi, sebuah ritual dengan alasan agar bisa masuk organisasi. Raungan macan yang belum pernah dirasakan dikenyataan kini bisa dibayangkan dalam kegiatan seperi ini. Yap ini kegiatan orang normal. Hihi.
Setelah melihat kegiatan orang normal, sekarang giliran gue yang akan memberi tahu bagaimana kegiatang gue sebagai orang yang tak biasa normal melalui weekend nya.
Seperti yang sedang kalian baca ini, gue selalu siapkan postingan-postingan yang sangat tidak biasa seperti ini di setiap weekendnya, jadi ya kegiatan gue Cuma memikirkan postingan “kewren” selanjutnya.
Setelah terwujudnya cita-cita membangun internet dalam kostan, sekarang gue dengan gampangnya memposting di blog kapan saja, tapi sayangnya tugas kuliah gue numpuk. Nih ya gue cerita lagi (jadi ceritanya ada cerita di cerita yang di dalamnya ada cerita lagi), jadwal kuliah gue disemester ini jauh berbeda dengan semester sebelumnya, jika apda semester sebelumnya gue bisa mengejek temen-temen gue yang masuk kuliahnya pagi, sekarang gue kena karma nya! Jam kuliah gue berubah drastis, yang tadinya selalu bilang “Paling Paginya” namun sekarang kebalik, gue selalu memberitahu temen-temen dengan kata “Gue kuliah PALING SIANGNYA JAM SEMBILAN”. Jam sembilan itu jam paling pagi disemester gue sebelumnya. Oke jadi maafin kalo tuan rumah blog ini jarang posting. Tapi btw gue selalu aktif dalam per e-mail’an, so, email aja! Jangan sms apalagi Bbm. Disitu kadang saya butuh hape canggih -_-

Setelah gue asik berinternet ria menikmati hasil jerih payah dari mendapat hadiah sebuah AP ini, oh iya, gue belum masak! Oke wait yaaa…….. wait!!

Oke, Finished!
Tinggal nunngu matang :-D
Nasi sudah dimasak, dan jelly siap di hidangkan. yap menu baru yang tadi gue omongin itu bikin Jelly! gue belum bisa bikin jelly yang bener-bener kaya sungguhan, setiap gue bikin jelly pasti lembek kaya gue ngedeketin cewe, huufft.

Oh iya, sorry kalo postingan kali ini curhatan kegiatan gue, gue cuma mau ngungkapin betapa senang nya bisa bersantai menikmatin kamar kost.an yang gue bayar tiap bulan dengan mencari nya mati-matian, dari gue ikut semua maca perlombaan sampai gue rela ngejualin barang-barang berharag gue. oke enough!
thanks guys, semoga hari kalian menyenangkan !

Sunday, March 8, 2015

Kembali ke dunia Ibu Kota


 Yeaah!!
Udah lima hari ini semenjak hari selasa kemaren gue nyampe ke Jakarta mendarat dengan ban sepeda motor gue ilang satu. Ini bukan karena pem-begalan yang sedang marak melainkan ini akibat dari penambal ban yang narik paku di ban gue engga kira-kira pake Las besi. Jadi dengan begitu bukannya paku yang lepas melainkan ban gue juga ikut lepas dan harus hilang tergantikan. Mungkin semua nya kisah gue sama ban gue berhenti sampai disini, terimakasih telah menjadi bagian perjalanan mengejar cinta gue oh ban gundul ku.
Dengan tubuh masih bau pedesaan dengan kulit khas terbakar matahari pesisir dan bahasa masih ngapaknya, Alhamdulillah gue sekrang udah bias nyesuaikan diri dengan kehidupan disini lagi.
Sekarang gue lagi dikejar deadline untuk beberapa acara kuis yang akan gue ikutin, ini adalah salah satu kegiatan yang harus gue lakuin untuk bias move on dari sawah-sawah pedesaan yang selama sebulan gue nikmatin (tentu saja pemandangannya) dan bagi gue sulit untuk dilupakan begitu saja. Untuk itu gue berusaha untuk melakukan kegiatan apapun untuk mengurangi waktu luang gue agar engga bias inget lagi tuh sawah. Oh sawah oh sawah, betapa nikmat nya buang hajat di pangkuanmu, oh sawah.
Kuis gue yang gue ikutin ini adalah kuis yang diadain oleh salah satu produk makanan ringan yang sebenernya engga begitu gue suka tapi karena ada kuis ini gue terpaksa beli satu box hanya untuk mengikutin kuis itu. Persyaratan agar bias ikut kuis itu adalah dengan cara mengirimkan box dan bekas bungkusnya.
Sebenernya sih gpp kalo gue ngirimin persyaratan dengan biasa aja, yaitu makan isinya kirim bungkusnya.
Cuman, supaya gue dibilang peserta yang keren, ganteng, baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung di kamar mandi, maka gue pun ngirim persyaratan itu dengan cara gue buka bungkus nya lalu gue keluarin isi nya yang kemudian gue makan, gue kumpulin bungkusnya lalu gue kirim PLUS gue serahin juga struck pembelian gue di Ramayana PLUS juga tanda tangan supir angkot agar mereka tau berapa biaya yang gue keluarin dan agar mereka tau juga betapa gue terpaksanya pergi ke Ramayana hanya untuk beli nih bungkus snack.
Maksud dan tujuannya baik, supaya yang nerima nya bilang ke juri-juri lain:
“buset dah nih yang ngirimin atas nama Adee dari Jakarta ini ganteng banget dah, jarang lho ada orang ikutan kuis kaya gini ngasih struck asli bukan foto. Emang cihui deh nih orang.”
Lalu setelah gue kirim bungkus + Struck pembelian itu, gue balik ke kontrakan.
Sampe kontrakan, gue mikir sama diri gue sendiri… kok kayanya ada yang salah nih.
Ada sesuatu yang mengganjal. sesuatu yang sangat salah.
Gue langsung lihat kebawah cek celana gue, engga… gue engga make celana dalam di luar lagi.
Gue lihat ke kaca, engga… engga rambut gue engga ketiban eek burung lagi.

LALU APA YANG SALAH???!

Gue duduk di bangku belajar.
Terus mikir lama. Sampe akhirnyaa…
Ya kamprett.. gue baru inget, foto profil yang gue kirimin ke kuis itu adalah foto gue lagi nongkrong buang hajat di pesawahan. -_-
Tuh panitia penerima persyaratan, pas ngecek foto data diri gue, langsung mikir:
“ini kok muka nya tampan sekali ya mirip sama apa yang diakeluarin dari pantatnya dan emang bener-bener rajin menabung. Tapi tetep lah si Adee ini keren abis, ngumpulin persyaratannya pake struk asli.”
Lalu, apakah yang bias gue lakukan? Well, pilihannya adalah sebagai berikut:
1.  Berharap fokus panitianya ke bungkusan kosong PLUS Struck asli.
2. Kalaupun dia merhatikan foto profil juga, berharap dia terpana ngelihat background sawahnya.
3. Pergi ke kantor tuh snack, nyamar jadi penjahat terus menyandera satpan beserta anak istrinya untuk ditukarkan sama foto profil berak gue tersebut.
4.  Dia suka baca buku Radityadika.
Tapi ya sudahlah, itu hanya sebuah kuis iseng yang ternyata engga berhasil membuat gue lepas dari bayangan pesawahan.

Eniwei, gue seneng banget bisa balik lagi ke Jakarta, walaupun ada beberapa hal yang engga bisa gue lakuin seperti gue lakuin di rumah. (kaya nikmatin pesawahan sambil ngeden – ngeden kaya orang mau ngelahirin. Hahaha)

Jakarta sama daerah gue itu beda banget. Ada enaknya, ada engganya.
Masing-masing mempunyai ceritanya tersendiri.
Emang, engga masalah bagi gue walaupun gue hidup di Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau bahkan di Papua sekalipun. Karena ga ada gunanya merasa sedih, nyesel, atau menjerit-jerit kesepian.
Kata Radityadika sih: Just take a seat back and relax. And make the most of it.
Lagian, disinilah gue akan menghabiskan empat tahun dari masa hidup gue.

Dan buat kalian yang sekarang sedang menempuh pendidikan dan jauh dari orang tua, jangan pernah merasa sedih. Jangan pernah nyesel, ragu atau ngerasa kangen sampe nangis tiga hari tiga malem.
Karena, pas kita balik ke rumah kita dari universitas nanti, dengan gelar ditangan, pengalaman di kepala, dan sejuta hal untuk diceritakan kepada orang-orang, akan ada banyak orang yang menyambut kita.
Dan kita akan tersenyum kepada mereka, puas.