Monday, August 1, 2016

Bangun Masih Bermimpi – Cerita si Koki Jalanan

Ini gue udah bangun ?



Ini adalah kesekian lapernya gue dimalam hari. Yang buat gue jadi kebangun dan gagal untuk menghemat. Yaps, hari ini hari Minggu, dan itu tandanya hari libur. Bagi gue, devinisi libur itu beragam dan sering gue kombinasiin. Salah satu kombinasinya ya terjadi pada Minggu ini. Gue coba libur untuk beraktivitas dan libur, makan.
Jadi tadi pagi gue Cuma makan sereal Energen dan siangnya gue coba untuk nonton film yang gue fikir bakal bisa ngilangin laper, ternyata engga, masih tetep laper dan gue mutusin buat, tidur.
Sampe malem ini, gue baru bangun. Dan gue engga tahan akhirnya pergi untuk nyari makan.
Gue keluar pager, ternyata warteg sudah tutup. Gue tanyain kenapa tutup ke penjualnya. Dan penjual itu jawab: “Maap mas, kalo mau nyari Bodrek jangan di warung saya”.

Bukan banyolan garing gue itu pointnya. Ini tentang pertanyaan gue, apakah gue masih tidur atau sudah bangun ? kok masih bermimpi.


Saat gue dateng ke tukang nasi goreng langganan gue di pertigaan jalan yang mau ke arah kost, tidak ada hal yang spesial, walaupun ramainya tukang nasi goreng itu ada yang ganjil menurut gue. Kalo Cuma rame saja sih, di nasi goreng itu udah biasa. Emang setiap harinya rame. Tapi ini menurut gue ada yang ganjil, dan ternyata yang ganjil itu adakah: duit gue ketinggalan.
Setelah gue balik dan ambil dompet, dan balik lagi ke tukang nasi goreng. Pas cek isi dompet, ternyata adalagi yang ketinggalan yaitu, SIM gue ketinggalan. Tapi kali ini gue engga balik lagi ke kost. Bukan masalah ini sudah malem atau karena ini jalanan kampung yang engga bakalan ada polisi. Karena menurut gue, kesiapan kita untuk mematuhi aturan lalu lintas harus lah selalu siap. Toh demi kebaikan kita sendiri. Ada atau tidak adanya polisi, aturan tetaplah aturan. Tetapi ini beda, hal yang membuat gue engga balik lagi ke kost karena: gue make sepeda.


Terlihat salah seorang bapak-bapak terlihat sedang mengawasi koki nasi goreng itu masak. Bapak itu terlihat seperti sosok preman jaman dulu. Dengan tato di tanga, codet di muka, anting di sepanjang daun telinga dan celana yang di lututnya sobek. Bapak itu mirip dengan tokoh Bujang “Babi Hutan” dalam Novel “Pulang” karya Tere Liye.
Terlihat sekali koki itu terasa risih dengan pandangan bapak itu. Terlebih ternyata bapak itu selalu berkomentar terhadap perubahan dalam masakan sang koki. Bilang kalau Nasi Gorengnya kenapa warna nya engga merahlah, Nasi Gorengnya jangan make kecaplah, jangan sampe pedas lah dan masih banyak lagi kicauan bapak itu. Gue udah pusing dengernya.
Bayangin, awalnya bapak itu bertanya kenapa nasi gorengnya tidak berwarna merah, sementara bapak itu tidak mau banyak-banyak pake kecap di nasi gorengnya? Setau gue, warna merah nasi goreng itu berasal dari kecap. Terus kalo bapak itu engga mau banyak kecapnya gimana ?
Ternyata koki nasi goreng ini punya cara lain untuk membuat warna nasi gorengnya menjadi merah. Yaitu dengan menambahkan sambal yang terbuat dari cabai dan itu akan membuat masakan menjadi kemerahan
Tapi masalahnya, sekali lagi, bapak itu minta supaya nasi gorengnya tidak mau pedas.
Dari tempat duduk yang biasanya di pergunakan untuk pembeli ngantri, gue lihat raut muka si koki yang begitu cuek menanganinya. Gue yakin, pengalaman tuh koki menghadapi pembeli seperti kaya gini sudah banyak.
Ternyata setelah nasi goreng itu sudah jadi--dengan cueknya si koki dan bapak-bapak masih terus berkomentar meminta ini itu--, nasi goreng itu kemudian dibungkus oleh pelayan dan mengasihkannya kepada bapak itu.
Ternyata, untuk selektif terhadap apa yang terjadi pada kita, termasuk jenis makanan yang harus sesuai dengan selera dan keinginan, kita telah mempersulit orang lain. Tidak semuanya memang, tapi gue yakin bapak-bapak itu tidak sadar melakukannya. Dan itu berarti kita juga bisa saja tidak sadar melakukan hal yang serupa terhadap orang lain. wallahu a'lam.


Dalam dunia IT, memang sering terjadi hal seperti ini. Banyak yang meminta agar data-data nya aman, tapi orang akan sangat kesal jika sedikit-dikit sistem meminta untuk memasukan password, padahal langkah itu dinilai efektif untuk mengamankan sistem dari berbagai serangan.
Dan ini lagi – lagi untuk mewujudkan keinginan kita, ada orang-orang yang tentu akan direpotkan. Kita juga harus siap direpotkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kalau tidak mau repot, ya berarti jangan coba – coba menginginkan sesuatu hal yang bersifat pribadi namun bergantung pada orang lain.

Setelah bapak-bapak itu pergi. Pesanan gue pun di buat. Gue nunggu. Dan ada pembeli lain datang. Kali ini ibu – ibu.
Permintaan ibu – ibu itu aneh. Dia beli enam bungkus nasi goreng, tapi si tukang nasi goreng itu harus mau nurutin kemauan si ibu agar si ibu mau membeli enam bungkus nasi goreng langsung. Permintaannya ada pada tata cara bagaimana masak telornya.
Kalo gue yang jadi koki nya, pasti gue udah nyuruh ibu itu supaya bikin sendiri nasi gorengnya. Bayangin aja koki nasi goreng aja masih di atur tentang masalah masak telor.
Tapi ternyata dugaan gue salah. Dan kayanya gue berdosa -_-
Ibu itu minta agar telornya di bagi sesuai keinginannya. Disini gue, koki dan pembeli lain dia ajak bermain logika. Menurut ibu itu, kalau dia beli enam bungkus nasi goreng, berarti dia juga mendapatkan enam butir telur. Ibu itu  meminta agar telur itu tidak di masak sekaligus, melainkan dibagi menjadi: dua butir dihancurin, empat butirnya di dadar yang kemudian empat butir telor dadar itu dibagi supaya ke enam bungkung nasi gorengnya itu kebagian semua telor dadar.
Ini trik kelas dewa.
Dengan seperti itu, ibu itu berpendapat kalau dengan begitu berarti dalam satu bungkus nasi goreng akan terdapat dua jenis telor yang beda cara masak nya. Satu jenis telor dihancurin kaya nasi goreng biasanya, satunya lagi dia dapat rasain telor yang didadar utuh. Amazing pemikiran ibu ini.
Gue rasa sih ibu ini sering banget beli nasi goreng dengan jumlah banyak dan merasa kehilangan telurnya. Mungkin ibu itu menganggap kalau dia beli enam bungkus nasi goreng, abang nasi gorengnya tidak ngasih enam butir telor. Karena seberapa banyaknya telor jika di hancurkan dan dicampur dengan nasi, telor – telor itu kayanya engga bakal kelihatan. Dan mungkin itu yang ibu ini rasain sehingga ibu ini menciptakan Resep Ajaib ini.


Diluar itu semua, gue beruntung dalam kasus ini abang nasi gorengnya terlihat sangat pengalaman menanggapi pembeli – pembelinya.
Gue sih engga punya masalah dengan bapak – bapak maupun ibu ini. Mereka punya hak masing – masing sebagai pembeli. Mereka berhak meminta hak mereka sebagai pembeli nasi goreng. Yang gue masalahin adalah, koki itu jadi lama masak pesenan gue yang sedang kelaperan ini. Entah gue sedang bermimpi ataupun sudah bangun, yang jelas gue laper, pak, buk! Cukuplah kalian membuat susah koki nasi goreng ini saja, jangan membuat susah hamba yang sudah susah ini, hiks.



PS : Janganlah membuat susah orang lain, apalagi membuat susah mahasiswa yang sedang lapar. Atau anda akan di ceritakan dalam blognya!