Monday, January 18, 2016

Engga Penting – Semacam kangen yang menjijikan


Hoam~

UAS hari pertama terlewati. Hari yang melelahkan walaupun tidak menjawab pertanyaan satu pun. Jadwal Ujian belum sampai kepada saya, namun kegiatan harus terus berlangsung. Lembar demi lembar soal harus dibagikan yang kemudian beberapa menit harus dikumpulkan lagi, Kegiatan yang sangat tidak penting.

Lelah tak dapat dihindari, istirahat harus diurungkan karena banyak kewajiban lain yang harus dilakukan. Script harus cepat diurusin sebelum error berkeliaran lebih banyak lagi, ngoding. Buku-buku harus cepat di baca sebelum lanjutannya terbit lagi. Materi mau engga mau perlu dirangkum agar pas hari H enak untuk di hafal. Semuanya, banyak hal.

Smartphone, banyak chat yang belum tersentuh. Group muted berderatan menandakan percakapan yang terjadi sepanjang hari. Yang hingga pada akhirnya gue berhenti di salah satu chat personal dari temen yang mempunyai passion yang sama, menulis. Dia mempunyai project untuk sharing buku – buku dan dia memberikan info nya itu di lama facebook nya yang pada akhirnya gue melihat isi laman tersebut.

Niat hanyalah niat, beranda tak bersahabat, selalu menawarkan hal yang menggoda untuk di baca.

Ada salah satu “Note” [Tidak Penting!] yang terlintas. Sejenak aku meluangkan waktu untuk membacanya.

. . . . .

Kamu, hey kamu…

Andaikan kamu membaca tulisan ini, Mungkin kamu anggap ini ke-alayan yang terjadi lagi pada diriku.

Ini adalah balasan dari apa yang ada laman facebook kamu.

Iya, aku bukan sahabat kamu, aku juga tidak ada didalam maksud tulisan kamu, tapi…

Ahh sudah lah, aku bukan siapa-siapa.

Saran demi saran untuk menghubungimu kembali terlontarkan dari mereka yang mengetahui tentang keadaan aku sekarang ini.

Tapi aku masih yakin dengan ini hanyalah sebuah keresahan, bukan kangen yang menjijikan.

Aku tau kamu tidak suka se-frontal itu.

Jika kamu bisa kangen kepada sahabat kamu, sahabat kamu juga bisa dengan gampangnya bilang kangen kepadamu. Lantas gimana dengan aku ? Pasti akan terlihat menjijikan jika aku berprilaku sama seperti sahabat kamu itu. Engga percaya? Coba fikirkan.

Dan sekarang, aku Cuma mau berterimakasih kepada media sosial yang sebenernya aku mulai ngejauhinnya, Facebook.

Media sosial yang membuat aku bisa melihat kamu, tulisan kamu, walaupun karangan temen kamu.

Thanks~



Karena rindu yang terhormat adalah mereka yang dapat merindukan dalam tekanan.

Rindu yang sempurna itu bukan sedikit-dikit bilang kangen, tapi banyak-banyak menyimpan rasa agar pada saat bertemu rasa itu bisa, Utuh.

Post a Comment