Thursday, July 2, 2015

Desahan Mahasiswa tak berseragam di Ramadhan ke Lima Belas


Lepas seragam bukan enak seperti yang di difikirkan, tapi malah sebaliknya.
Dulu, saat masih berseragam, kita kerap berfikir ini lah proses pembully-an secara masal. Karena pada saat kita berseragam kita akan terlihat satu oleh orang yang memimpin kita. Kita akan bisa seenaknya di apakan saja oleh mereka, orang – orang di atas kita. Karena seragam adalah tanda kita mau tidak mau harus menuruti sang tuan.
Yap, waktu di STM dahulu, kita setiap hari di seragam kan dan bahkan ada satu hari dimana kita di seragamkan dengan seragam yang siap perang, sepatu hitam tak beralas licin, celana bahan menguntai, baju ijo kedodoran yang harus dimasukan kedalam celana, muka dibikin lecek, rambut di ukur – ukur, bertopi namun tetap panas. Yaaaa, semua nya itu karena berseragam.
Namun sekarang, kami sudah tak lagi berseragam, kami bebas dari tuntutan itu semua, kini kami hidup layaknya tak adalagi sang raja, kami bisa hormat dengan cari kami sendiri, bukan dengan cara menempelkan tangan di pelipis alis kanan.
Sekarang kami bebas!
Dan kami tak berseragam.
Kami masuk ke dalam golongan manusia yang menjalani kehidupan bertopang pada satu insan bernama “Dosen”. Mereka adalah yang mempunyai hak penuh atas apa yang akan terjadi pada kami, manusia tak berseragam. Kami punya mimpi, dan kami di jejalkan apa yang bukan mimpi kami!
Sekarang, kehidupan kami dalam beberapa waktu akan di renggut olehnya untuk begadang dan bolak balik mondar mandir kesana kemari menuju hal yang sebenarnya gampang saja dilakukan, tanda tangan.
Dan di malam ke limabelas bulan ramadhan ini, masih saja kami harus mengorbankan waktu kami yang seharusnya bisa lebih bermanfaat dalam keagamaan, untuk begadang dan melakukan hal yang kalian pinta, yang lagi-lagi itu tidak ada di draft mimpi-mimpi yang telah kita rangkai.
Tak berseragam, kami memang tak berseragam, tetapi bukan berarti kami berbeda, kami semua sama, Manusia!
Kami tau apa yang dimakan Kemandirian, yaitu tidak harus selalu sendiri! Kami manusia sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, tidak selamanya kami dipisah.
Di sini kami sadar akan bagaimana kami dulu pernah memakai seragam yang sama dalam sebuah kelompok bernama “Sekolah”. Dari sini kami mengerti arti dari seragam itu. Yap, bukan hanya pakaian atau fashion semata, tapi kami sadar dalam kalimat seragam ada maksud lain, yaitu seragam == sama.
Sama, dari sini kami sadar jika arti sama itu bukan kami di samakan untuk dapat di bikin robot masal yang akan dengan gampangnya menurut pada sang tuan. Tapi arti dari sama itu, kami tau, yaitu kekompakan, saling membantu, satu sama lain.
Tidak seperti kami sekarang yang tidak memakai seragam, tidak akan bisa menjadi satu, kecuali kami memiliki ego dan tujuan yang sama, dan itu susah!
Susah untuk kompak apalagi membantu satu sama lain, semua akan ingin menang sendiri, Bullshit jika kami mengaku tak mengenal apa yang dinamakan politik.
Kami sadar, dan kami ingin merasakan berseragam dalam arti sebenarnya.
Indonesia Beragam…

Indonesia, Berseragam..

Post a Comment