Friday, July 31, 2015

Prakerin Bersama 'Yang Terdekat'

Salah satu kegiatan seorang pelajar SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) adalah Prakerin (Praktek Kerja Industri) atau ada yang menyebutnya juga PKL (Praktek Kerja Lapangan). Praktek Kerja Lapangan atau Industri merupakan istilah magang untuk pelajar SMK, dimana saat Prakerin pelajar-pelajar SMK tersebut bisa merasakan bagaimana dunia pekerjaan yang sesuai dengan kejuruannya masing-masing.
Saya sendiri merupakan orang yang pernah merasakan Prakerin. Sebagai siswa SMK, saya dituntut untuk mengikuti Prakerin agar bisa memenuhi syarat kelulusan. Kegiatan yang bagi seorang pelajar dianggapnya sebagai tantangan dan akan menjadi pengalaman baru dalam hidupnya. Setiap sekolah SMK memiliki standarnya masing-masing mengenai ketentuan-ketentuan Prakerin yang akan dijalani oleh siswanya, salah satu dari ketentuan dasar yang biasanya ada pada setiap sekolah SMK adalah, siswa yang telah melakukan Prakerin diwajibkan untuk membuat laporan kegiatan mengenai Prakerinnya itu.
Bagi saya, Prakerin bukanlah suatu yang harus ditakutkan karena cerita horor dari senior yang sering mengatakan kalau, saat kita menjalani kegiatan Prakerin, kita akan dijadikan babu yang akan di suruh-suruh oleh atasan disuatu industri. Cerita-cerita macam itu sangatlah familiar ditelingan junior yang akan menjalani kegiatan Prakerin. Ada juga senior yang berpendapat, saat kita menjalani kegiatan Prakerin, suatu Industri akan melihat bagaimana kita dalam menjalani kegiatan itu, artinya, kesempatan kita setelah lulus agar bisa langsung bekerja ada pada kegiatan Prakerin ini. Apabila Bos senang melihat kita saat kita melakukan Prakerin, besar kemungkinan kita akan mudah untuk bisa bekerja pada Industri tempat kita melakukan Prakerin. Opini seperti ini juga sangat didukung oleh guru-guru yang tentu tidak mungkin memberikan Down Syndrome.
Berbagai Spekulasi tentang Prakerin bergulir ditelinga para junior seperti kami. Saya sendiri menanggapinya dengan biasa-biasa aja, karena menurut saya Prakerin adalah Belajar. Dimana setiap orang yang belajar harus mau menuruti instruksi seorang gurunya agar transfer knowledge bisa terjadi dengan baik. Tentu guru yang baik akan memberikan instruksi yang baik juga. Orang belajar juga tentu akan mendapat reward atas apa yang telah dicapainya. Begitu saya menganggap atas sebuah kata ‘Prakerin’.
Dengan beranggapan seperti itu, maka saya tidak menyiapkan sesuatu hal yang spesial untuk melakukan kegiatan Prakerin ini, berbeda dengan teman-teman lain, yang merasa ketakutan dan ada juga merasa harus bekerja keras agar bisa dibanggakan Bos disana. Mereka mempersiapkannya begitu keras, belajar mati-matian, dekatin guru-guru berharap bisa dikasih bocoran agar Prakerinnya “Selamat”, Ada juga yang jadi sering rajin pergi ke Perpustakaan. Berbagai persiapkan dilakukan untuk kegiatan Prakerin.


Hari pemberangkatan Prakerin pun tiba. Saya mendapatkan tempat Prakerin di Jakarta, disebuah perusahaan CV yang bergerak dibidang perakitan Laptop/Netbook. Waktu yang diberikan oleh sekolah kepada saya untuk melakukan Prakerin adalah dua bulan. Jadi saya membayangkan betapa serunya “Belajar” didunia Industri selama itu.
Ruang Perakitan
Minggu pertama Prakerin itu, belum ada pekerjaan yang bisa saya lakukan. Pada minggu pertama itu saya hanya bisa melihat-lihat bagaimana pegawai mereka merakit laptop, saya juga diberi arahan serta pelatihan sebelum memegang alat untuk merakit laptop-laptop pada minggu pertama.
Diminggu kedua baru saya diperbolehkan untuk memegang alat, dan untuk pertama kalinya saya merakit laptop di pabrik seperti ini, biasanya hanya membongkar pasang laptop sendiri dengan alat seadanya, obeng dan tang. Tidak seperti yang dibayangkan kalau merakit laptop itu susah, ternyata ekspetasi seperti itu tidaklah benar, saya sudah bisa mahir dalam merakit laptop dengan alat tersebut pada minggu ke empat masa Prakerin.
Sudah satu bulan saya melakukan kegiatan Prakerin ini.
Setelah satu bulan saya melakukan Prakerin merakit laptop ini, saya merasa ada kejenuhan, Cuma itu-itu aja kegiatannya, tidak ada sesuatu yang bisa di dapatkan lagi, semuanya ilmu yang ada itu seperti sudah saya dapatkan, hal yang saya cari sudah saya dapatkan.
Namun saya tidak boleh pulang atau meninggalkan Prakerin selama waktu yang diberikan Sekolah masih ada. Saya terikat harus melakukan kegiatan ini dalam waktu yang sudah ditentukan. Namun hati saya menolak.
Akhirnya saya mempunyai inisiatif untuk masalah ini, agar saya bisa melakukan Prakerin sesuai waktu yang ditentukan, dan yang paling penting saya akan mendapatkan ilmu baru dan bisa belajar lebih banyak.
Menjual Sendiri Laptop/Netbook (Produk) itu.
Dengan sebagai penjual atau Sales, saya bisa melakukan Prakerin dengan cara yang berbeda dan tentu akan mendapat ilmu yang lebih. CV tempat saya Prakerin pun menyetui permintaan saya ini, saya akan membuka toko sendiri di daerah tempat SMK saya. Saya akan pulang untuk melakukan Prakerin disana.
Sebelum saya membuka toko sendiri, saya di training oleh sales yang telah berepengalaman, saya di beri pengarahan tentang bagaimana menjelaskan Produk dan menghadapi Custumer yang sering komplain.
Setelah seminggu di kasih pengarahan, sekarang saya diperbolehkan membuka toko sendiri dan mengatur segala management uangnya sendiri.
Hari pertama saya buka toko, sudah banyak calon pembeli berdatangan, menanyakan beberapa produk yang saya jajakan. Hari pertama, hari kedua, sampai hari ketiga saya belum bisa mendapat pembeli.
Saya menyewa stand di sebuah mall di daerah Indramayu selama satu bulan, tepatnya di Toserba Surya Indramayu. Setelah seminggu lebih saya membuka toko, barulah saya bisa mendapatkan pembeli, satu unit Laptop terbeli oleh seorang guru SMP.
Beberapa waktu kemudian saya dikirimin barang lagi dari Jakarta berupa Smartphone dan Tablet, ternyata CV tempat saya Prakerin itu kini sudah memproduksi Smartphone dan Tablet  juga. Sekarang barang dagangan saya menjadi lebih bervariasi.
Smartphone yang memang sedang lagi booming-boomingnya, membuat konsumen di daerah seperti Indramayu ini dangat di minati. Saya pun bisa menjual lebih dari 35 unit Smartphone dan Tablet dalam waktu satu bulan.
Seiring berjalannya ini semua, saya takut akan uang yang tidak sedikit ini, saya mencoba mencari solusi dengan menanyakannya pada management pusat tentang urusan keuangan, namun mereka ternyata tidak tahu menahu, mereka hanya ingin terima beres laporan penjualan dan jumlah nominal uang yang harus di transfer ke nomer rekening sekretaris pusat.
Masalahnya adalah, mereka hanya mau menerima uang ketika uang sudah terkumpul minimal 25 juta Rupiah. Untuk ukuran umur saya saat itu, uang segitu merupakan nominal yang sangat besar. Tiap hari pun omset saya mencapai 5 juta. Artinya setiap hari setidaknya saya pasti mengantongi uang 5 juta rupiah. Sesuatu yang menakutkan bagi anak seumuran itu.
Kemudian saya mendapat solusi agar uang itu ditabungkan di bank. Permasalahannya, saya belum punya rekening. Dan akhirnya saya cerita ini ke om saya yang kemudian saya ditanya, “Kantor bank apa yang terdekat?”.
Kantor Bank BNI Indramayu

Saya pun melihat-lihat sekitar yang kemudian melihat kantor pusat Bank BNI Indramayu yang tepat berada di depan Toserba Surya Indramayu. Kemudian saya bilang ke om dan kemudian diberikanlah kartu ATM dan tabungan BNI om saya itu, saya menggunakannya untuk menabung uang ini semua.
Saya juga melakukan transfer uang ke kantor pusat tempat saya Prakerin menggunakan BNI, yang dengan ini kantor pusat pun ternyata membuka rekening Bank BNI juga untuk mempermudahkan transfer dengan saya.


Yang awalnya hanya untuk menyimpan uang dagangan, ternyata saya ketagihan dengan pelayanan yang ramah dari teller-teller cantik di Bank BNI serta kemudahan akses karena kantor Bank BNI yang dapat ditemui manapun, termasuk di “Daerah” seperti ini.
Dengan Bank BNI saya bisa sukses melakukan Prakerin ini, sampai saya diberi gaji untuk kerja keras saya ini, hal yang luar biasa bagi seorang pelajar yang awalnya hanya ingin belajar.
Bank BNI memberikan jalan untuk mempermudah saya. Sehingga saya bisa menyelesaikan Prakerin saya bersama "Yang Terdekat, BNI". Terimakasih.


Semoga Yang menganggap Prakerin atau PKL itu bisa mendapat uang seperti saya, itu salah. Prakerin atau PKL adalah tetap proses belajar, adapun reward yang akan kita terima, itu hanya sebuah bonus atas apa yang kita kerjakan. Lantas apa yang telah kita kerjakan? Pantaskah kita mendapatkan reward ?

1 comment:

  1. Baru tahu ternyata arti Prakerin itu praktek Kerja industri -_-

    ReplyDelete